Feeds:
Posts
Comments

sungguh sebuah perjalanan yang jauh dan melelahkan tetapi masih saja berada dipermukaan yang penuh fatamorgana. Menyelam dalam kedangkalan makna hidup menjadikan pandangan terbatas dalam cakrawala kenyataan. Kilau mutiara kehidupan seolah sirna dalam gegap ambisi. dunia hanyalah dunia.

Dah lama jg ga nulis d blog, mungkin kalah fenomenal ama facebook, jd pd lupa ngeblog 🙂

Relijiusitas Sains

Anda akan jarang menemui orang yang memiliki pemikiran ilmiah mendalam tapi tidak memiliki perasaan relijius tersendiri. Namun, itu adalah agama yang berbeda dengan agama orang lemah. Bagi orang lemah, Tuhan adalah zat yang memberikan harapan dan hukuman, suatu sublimasi perasaan yang mirip dengan perasaan seorang anak kepada ayahnya, sosok yang dengannya memiliki suatu hubungan personal, betapapun mungkin disertai dengan perasaan kagum.
Akan tetapi ilmuwan dipenuhi dengan pemahaman sebab akibat alam semesta. Baginya masa depan niscaya dan pastinya dengan masa lalu. Tidak ada yang bersifat sakral tentang moralitas. Itu sepenuhnya urusan manusia. Perasaan relijiusnya berwujud ketakjuban amat sangat atas keselarasan hukum alam, yang mengungkapkan kecerdasan yang superior, yang jika dibandingkan denganya seluruh pemikiran dan tindakan sistematis manusia tidak ada artinya. Perasaan ini merupakan prinsip yag mengarahkan kehidupan dan kerjanya selama dia berhasil menghindarkan diri dari berbagai macam keinginan yang egois. Jelas ini merupakan persoalan yang erat kaitannya dengan persoalan yang dimiliki para ahli agama selama berabad-abad. (Albert Einstein, The world as i see it)

Train of Consequences

Setiap perubahan pasti membawa konsekuensinya. Keputusan apapun pasti ada hikmahnya. Setiap detik, sadar atau tidak, perubahan pasti terjadi dan akan terus terjadi.

Independence Day

Bulan Agustus adalah bulan yang bermakna sangat dalam bagi bangsa Indonesia. Karna dalam bulan tersebut merupakan titik awal kehidupan sebagai bangsa yang merdeka dari penjajahan. Rakyat Indonesia kini telah merdeka selama 62 tahun, rentang waktu yang cukup lama untuk sebuah eksistensi kehidupan berbangsa.
Tapi kini kemerdekaan atau kebebasan sering dijadikan sebagai bentuk ekspresi dalam berbagai kehidupan sosial masyarakatnya. Di alam kemerdekaan ini, sering terjadi pemaknaan yang begitu dangkal terhadap arti kemerdekaan. Merdeka atau bebas melakukan apa saja, baik pemikiran, sikap, berbicara tanpa memahami kondisi yang ada. Kebebasan yang kebablasan sering menimbulkan sengketa tanpa ujung.
62 tahun adalah waktu yang cukup untuk sebuah proses pendewasaan sikap mental yang lebih bijak dan saling pengertian dan menghargai dalam kehidupan masyarakat yang beragam budaya, agama dan lain-lain.
Merdeka bukan berarti bebas tanpa aturan. Merdeka berarti ketaatan pada aturan, kemandirian dan persatuan yang menciptakan harmonisasi kehidupan dalam masyarakat yang pluralis ini.
Selamat hari raya kemerdekaan ke 62 tahun bangsaku Indonesia, tetap merdeka sampai akhir dunia.

Dream Fantasy

Hhhhmmmmm…..zZZZZzzzzZZZzzzzz……buaian khayalan dunia mimpi, melayang melewati batas waktu, perjalanan tiada akhir, ketika sang matahari menyapa pagi, semua berakhir tiada arti.

Affair Manifest

Hmmm.. selingkuh adalah sebuah kata yang memiliki kekuatan tragedi yang besar terhadap hubungan antar manusia. Banyak orang yang benci dengan kata selingkuh, namun ada sebagian yang menyukainya sebagai the art of living. Selingkuh dapat diartikan sebagai pengingkaran atau penghianatan terhadap suatu komitmen atau perjanjian. Akan tetapi selingkuh secara sadar hanya terbatas pada hubungan manusia yang memiliki keterikatan emosi yang bersumpah untuk selalu setia. Padahal selingkuh bisa bersifat vertikal maupun horizontal dalam arti yang lebih luas.
Kenyataannnya manusia adalah mahluk selingkuh. Tidak hanya dengan sesama manusia saja. Dengan Tuhan sekalipun manusia berani melakukan selingkuh. Melanggar perintahNya, padahal kita sudah bersumpah dan bersaksi dan tahu itu salah.
Dalam kehidupan sehari-hari secara tidak sadar kita telah melakukan “perselingkuhan”. Baik itu dalam hal pemikiran, pekerjaan, bermasyarakat dan lain-lain. Bahwa akan selalu ada ketidakadilan dalam ruang lingkup kehidupan manusia yang selalu mencari “keadilan” yang lain berdasarkan keinginannya.